Minggu, 13 Februari 2011

Pariwisata Kabupaten Bulungan


Tanjung Selor adalah ibukota Kabupaten Bulungan yang dapat ditempuh selama 90 menit menggunakan speed boat atau sekitar 15 menit dengan penerbangan pesawat perintis dari Kota Tarakan. Secara Geografis Bulungan berbatas di sebelah Utara dengan Kabupaten Nunukan, sebelah Timur dengan laut Sulawesi dan Kota Tarakan, sebelah Selatan dengan Kabupaten Berau dan sebelah Barat dengan Kabupaten Malinau. Kondisi Kabupaten Bulungan memiiiki beberapa pulau yang dialiri puluhan sungai besar dan kecil serta topografi yang berbukit-bukit, gunung-gunung dengan tebing terjal dan kemiringan yang tajam.


Dalam hal kekayaan pulau, kabupaten ini memiliki pulau yang terluas yaitu Pulau Mandul di Kecamatan Bunyu (31.575 Ha) dan sungai terpanjang Sunyai Kayan (576 km), sedangkan gunung tertinggi adalah Gunung Kudas yang terletak di Kecamatan Peso dengan ketinggian 1.670 m.


Kabupaten Bulungan juga memiliki obyek wisata, baik wisata alam maupun wisata budaya yang sangat beraneka ragam, obyek wisata yang menjadi andalan adalah bekas Istana Kerajaan Bulungan, terletak di tepi Sungai Kayan di Tanjung Palas. Istana Kerajaan Bulungan pada tahun 1965 sempat hancur. Namun sekarang telah dibangun duplikat istana tersebut. Di belakang istana terdapat masjid tua dan kuburan Datuk Djalaluddin beserta Keluarganya.

Untuk obyek pantai ada Pantai Tanah Kuning dan Taman Laut Karang Tigan, obyek wisata Pantai Kuning ini sangat terkenal sekali karena lokasinya berdekatan dengan Taman Laut Karang Tigan yang terhampar di dalam laut yang sangat luas.

Pantai ini berpasir putih bersih dengan gelombang laut yang besar dan air yang bersih serta memiliki keanekaragaman ikan laut yang berwarna warni. Pantai Tanah Kuning yang terletak di wilayah Kecamatan Tanah Kuning memiliki tempat yang sangat indah untuk menikmatj suasana pantai. Lokasi Tanah Kuning dapat dilakukan dengan melewati jalur darat dan sungai/laut. Lama perjalanan menggunakan kendaraan sekitar dua jam.

Selanjutnya perjalanan menuju Air Terjun Idaman yang mempunyai tiga tingkatan dengan ketinggian 12 meter dan lokasi ini ramai dikunjungi pada hari-hari libur dan di lokasi ini juga tersedia areal untuk perkemahan remaja.

Teras Nawang, adalah obyek wisata yang terletak di hilir kota Tanjung Selor, yang dihuni oleh suku Dayak Kenyah Lepo Tau. Disini oleh masyarakat setempat dibangun duplikat Lamin Adat Raja Dayak Kenyah Lapo Tau dengan ukuran lebar 30 meter dan panjang 40 meter. Di desa ini dapat disaksikan Tarian Suku Kenyah Lepo Tau asli dari Apo Kavan Long Nawang. Obyek lainnya adalah Mara Satu yang letaknya di bagian hulu kota Tanjung Selor di tepi sungai Kayan. Dalam desa Mara Satu bermukim suku Kayan, di sini terdapat Lamin Adat yang sangat besar sekali.

Pesta Birau merupakan pesta tahunan yang menampilkan berbagai atraksi adat dan budaya masyarakat di wilayah Bulungan yang dipadukan dengan pagelaran hiburan modern. Kegiatan Ini merupakan bagian dari peringatan HUT Kabupaten Bulungan dan Hari Jadi Kota Tanjung Selor yang diadakan setiap tanggal 12 Oktober.

Birau merupakan sebuah tradisi (perayaan adat) yang pada awalnya biasa diselenggarakan Kesultanan Bulungan, terutama saat pesta perkawinan putera-puteri Sultan, khatam Al Quran, Sunatan, Naik ayun/injak tanah, teristimewa sekali saat penobatan Sultan ke bangku singgasananya. Perayaan Birau ini pertama kali diperkenalkan saat pemerintahan Sultan Ali Kahar (1875-1889), Sultan ke V yang bergelar Sultan Kaharuddin II (puen Tua). "Blrau" sendiri berasal dari dua kata yakni "her" (melakukan) dan Irau (pesta ramai) jadi bisa disimpulkan bahwa Birau adalah rnenyelenggarakan pesta besar-besaran.

Perayaan Birau yang terbesar dan paling meriah berlangsung tahun 1946, ketika Sultan Bulungan X yaitu Sultan Maulana Djalaluddin memperoleh penghargaan dari Ratu Belanda Wilhelmina berupa penganugerahan pangkat Letnan Kolonel Tituler. Perayaan Birau saat itu berlangsung selama 40 hari 40 malam yang oleh Sultan dijadikan sebagai tindakan diplomatik dari pada tindakan berlebihan.

Sebagai tindakan diplomatik, karena perayaan itu digelar seolah-olah untuk menghormati dan menghargai pemberian gelar oleh Ratu dengan menunjukkan keluhuran dan tingginya nilai seni budaya Bulungan. Tetapi di balik itu Sultan tetap dengan prinsipnya untuk mendukung perjuangan bangsa Indonesia mencapai kemerdekaan.

Konkritnya ketika Sultan mengutus Menteri Pertama Kesukanan Bulungan Datu Bendahara Paduka Raja menghadiri perundingan-perundingan dengan pihak Belanda, seperti Konferensi Meja Bundar di Malino, Makassar, Sulawesi Selatan maupun perundingan-perundingan lain yang diadakan di Jakarta, Yogyakarta maupun Bali dalam memperjuangkan kepentingan Republik Indonesia.

Perayaan Birau yang terakhir di masa Kesultanan ini digelar di penghujung tahun 1955, ketika sunatan dan khataman putera Sultan Maulana Djalaluddin, Sultan ke X yang bernama Datu Ali. Sepeninggal Sultan Maulana Djalaluddin pada 12 Desember 1958, Birau tidak pernah diiaksanakan Iagi. Namun sekarang dirayakan Iagi dan menjadi bagian dari ulangtahun provinsi.

Kabupaten Bulungan memiliki jenis Kesenian tradisional, musik dan berbagai tarian dari Suku-suku yang bermukim di Kabupaten Bulungan antara lain: Tari Perang (Kencet Pepatai) dari suku Dayak, Tari Gerak Sama, Tari Gong suku Dayak Kenyah, Tari Jepen, Tari Jugit suku Bulungan, Tari Pina Katap dan lluk Bebalen.


Sumber : Buku Informasi Pariwisata Nusantara Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia, dalam :
http://www.fatawisata.com/kalimantan-timur/1189-kabupaten-bulungan 

Sumber Gambar:
http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Lokasi_Kalimantan_Timur_Kabupaten_Bulungan.svg
http://melayuonline.com/ind/news/read/696/dinas-pariwisata-bulungan-gelar-pemilihan-duta-wisata

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar